Rabu, 13 Januari 2010

MANYUN & PELANG ”sebuah obrolan di galeri foto”

Suatu ketika di sebuah galeri di kota Semarang diadakan pameran foto yang memajang karya-karya foto luar biasa dari para fotografer luar negeri. Sebagai mahasiswa DKV yang hoby fotografi, Manyun dan Pelang tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan emas tersebut. Dengan sangat antusias mereka berdua menonton karya-karya yang dipajang dan saling mengomentari.

Karya pertama yang mereka lihat adalah sebuah karya foto landscape yang sangat indah, hamparan alam air terjun Niagara plus pelangi yang eksotis.

MANYUN : ”Woooow..luar biasa, lihatlah foto tersebut..... detail awan dan pelangi terekam dengan sangat baik. Aku juga suka angglenya yg lebar sehingga bisa merekam keseluruhan obyek air terjun dengan indah...andai saja aku bisa memotret seperti ini !!!!” (sambil melihat karya tersebut Manyun berpikir mengenai teknik yang dipakai oleh fotografer tersebut, baik bukaan, kecepatan dan white balance-nya)

PELANG : ”ih..apanya yang luar biasa..semua orang juga bisa motret macam itu, obyeknya aja dah bagus...sambil merem aja pasti dapat anggle bagus. Coba kalau di Semarang, paling-paling motret Lawang Sewu dan Tugu Muda...cape deh”

Kemudian mereka berjalan lagi dan melihat karya kedua. Sebuah foto model yang sangat bagus. Dalam foto tersebut nampak seorang artis cantik berpakaian sexy yang sering dilihat di film-film Holywood. Ditangannya memegang sekuntum bunga membuat orang yang melihat foto tersebut terhanyut.

MANYUN : ”Hebaaaatt, lihat karya ini...fotografernya sangat jeli dalam menata pose model. Teknik lightingnya sangat bagus sehingga mendapatkan kontras fill in yang memukau. Ini sudah pasti fotografer profesional yang fokus ke bidang foto model” (sembari memandang kagum, Manyun mengkira-kira jumlah dan tata letak lampu yang dipakai)

PELANG : ”kalau modelnya bule cantik, apalagi bintang film profesional seperti itu, yang motret anak SD juga pasti jadi bagus...tidak perlu teknik lighting yang bagus, kalau modelnya sudah cantik.... ya fotonya pasti bagus..kalau sekedar foto seperti itu, aku bisa bikin yg lebih baik, asal disediain modelnya aja..he3x”

Kemudian mereka berjalan kembali dan dilihatnya karya ketiga. Sebuah foto tentang satwa liar yang ganas dan liar. Dalam foto tersebut terdapat gambar close up seekor harimau putih yang sedang mengaum.

MANYUN : ”wah ...ini foto menggetarkan sekali, lihat tuh Lang..sang fotografer pasti dengan sangat sabar menunggu moment tersebut. dan fotografernya pasti seorang petualang sejati yang terbiasa dengan alam liar sehingga dia mampu mendapatkan foto harimau putih yang langka....hmm benar-benar luar biasa”

PELANG : ”kalau ini jelas fotografer tajir yang punya banyak duit buat jalan-jalan kesana kemari. Apalagi untuk memotret seperti itu perlu lensa tele berkecepatan tinggi yang harganya selangit...coba aja kalau aku...duit dari mana Nyun?....kamera dan lensa seadanya, paling-paling motret kucing dirumah..ih..nggak deh”

Setelah itu mereka terus melanjutkan melihat karya-karya berikutnya, dan setiap setiap karya mereka komentari dengan sudat pandang yang berbeda, Si Manyun mengagumi dan menganalisa teknik karya sedangkan si Pelang selalu mengeluhkan kondisi peralatan dan kesempatan berkarya-nya...................................

Beberapa tahunpun berlalu, Pelang menjadi seorang fotografer profesional yang sudah keliling dunia, karena Pelang selalu melatih dirinya berkarya dengan kondisi apapun tanpa bergantung pada alat. Pelang memiliki studio besar di ibukota yang lengkap dengan perlengkapan canggih, langganannya para artis ibu kota harus membayar jutaan rupiah hanya untuk dipotret si Pelang. Padahal dulu Pelang hanya memotret teman-teman sekelasnya secara gratisan.

Sedangkan Manyun, setelah lulus hanya puas sebagai tukang foto keliling berkelas pas foto. Alatnya tidak pernah di upgrade sejak jaman kuliah, karyanya tidak pernah berkembang dan semakin jauh ditinggalkan Manyun, karena Pelang tidak pernah berlatih dan berkarya, selalu mengeluhkan alat dan kondisi yang dia punya.

KESIMPULAN :

Sebagai seorang fotografer terkadang kita memiliki karakter seperti Pelang, yang menganggap karya bagus semata-mata hasil dari faktor ekternal seperti (lokasi, model, alat dan kesempatan) tanpa melihat ada faktor lain yang sebenarnya jauh lebih penting yaitu faktor kemampuan /skill personal.

Sebagai amatir di dunia fotografi, seringkali kita tidak mau memulai dari hal-hal yang ada disekeliling kita, misalnya memotret halaman rumah, pemandangan sekeliling kota, memotret teman-teman sekelas. Sementara setiap mendapat karya yang kurang bagus, kita justru menyalahkan alat-alat yang kita pakai seperti lensa kurang bagus atau kamera kurang canggih. Memang ada benarnya kalau faktor eksternal merupakan faktor yang penting dalam terciptanya sebuah karya bagus, namun untuk mendapatkan semua itu tidak dapat secara instant, harusdengan dedikasi dan jam terbang yang lama. Sehingga sedikit demi sedikit kita terlatih dalam segala kondisi. Harus diingat bahwa ”senjata” yang tepat hanya berfungsi dengan baik apabila ada ditangan yang tepat. Artinya bukan semata-mata alat (kamera, lensa, lighting) yang mahal yang menjadi penentu terciptanya karya bagus, tetapi faktor kemampuan dari fotografer dalam mengolah konsep dan teknik fotografi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar