Selasa, 14 Juli 2009

INSTANT-isasi dalam Desain Komunikasi Visual

Instant merupakan sebuah kata favorit era modern ini. Sebuah kata kunci yang menawarkan sebuah kemudahan, simplisitas dan kecepatan disegala hal. Munculnya segala produk yang mengandung ke-instant-an di era modern secara tidak langsung ikut mendidik generasi saat ini cenderung menyukai segala hal yang instant. Tengok saja mie instant, minuman instant, bahkan sampai pada jasa laundry instant banyak kita jumpai di berbagai tempat. Istilah Instant-isasi sendiri muncul bersamaan dengan era kemajuan teknologi, sebuah kemajuan jaman yang tentunya tidak dapat dibendung dan mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia.
Film Wall-E dari Wall Disney yang beberapa waktu lalu ditayangkan di bioskop tanah air menggambarkan sebuah ironi dari kemajuan teknologi, dalam film tersebut manusia digambarkan telah berevolusi menjadi “tidak lagi” mampu berjalan karena segala aktifitasnya telah digantikan dengan mesin. Instant kini bukan hanya sekedar kata sifat namun secara sistematis menjadi sebuah “ideologi” (baca instant-isasi) yang mengakar di generasi muda, bergerak seperti sebuah virus komputer dan hinggap disetiap cara pandang dan pola berpikir manusia. Contoh paling sederhana adalah berkurangnya minat membaca buku dimasyarakat karena dengan internet segala sesuatu lebih mudah dan cepat didapat. Internet perlahan menggantikan buku karena sifatnya yang Instant (mudah, cepat dan lengkap), sementara buku dianggap kurang solutif karena mahal, rumit, dan lama. Ideologi Instant-isme juga kita jumpai dalam kehidupan akademis sebagai contoh mahasiswa yang tidak pernah mencatat hanya menunggu materi untuk di copy paste. fenomena calo Skripsi, Jual beli nilai, titip absen, tanda tangan palsu, pencurian intelektual dan lain-lain.
Keterkaitannya yang erat dengan teknologi membuat Desain Komunikasi Visual (selanjutnya disebut DKV) ikut terkena imbas ideologi Instant-isme. Seorang dosen senior pernah bercerita kepada saya bahwa mahasiswa DKV sekarang jauh lebih mudah dalam menjalani proses belajar mengajar daripada mahasiswa jaman dahulu (dekade 80an). Beliau membandingkan kalau jaman dahulu saat teknologi belum maju seperti saat ini, mahasiswa membuat desain dengan full manual yang artinya memerlukan waktu jauh lebih lama, mahasiswa pada waktu itu bisa memerlukan waktu satu minggu hanya untuk membuat satu desain. Sedang mahasiswa saat ini bisa membuat desain dengan waktu 15 menit dengan mencomot image bank yang ada di internet.
Instant-isasi di bidang DKV menciptakan dikotomi antara manual dan digital, meskipun sebenarnya bukan sesederhana itu. Dikotomi manual dan digital adalah salah satu imbas logis dari ideologi instant-isme, munculnya desainer yang melupakan pentingnya kemampuan hand drawing karena menganggap bahwa semua bisa dilakukan dengan adanya komputer. Hal tersebut secara riil dapat kita temukan dalam dunia akademis, para mahasiswa DKV lupa bahwa sebenarnya kemampuan manual adalah dasar dari kemampuan artistik. Meskipun pada akhirnya manual dan digital lebih mengarah pada area spesialisasi, kedua unsur tersebut sebenarnya merupakan 2 sisi mata uang yang tidak dapat dihilangkan satu sama lain. Desain full digital tentunya memerlukan sketsa manual sebagai landasan visual, sebaliknya desain full manual pada akhirnya juga akan mengalami proses finishing digital.
Ideologi Instant-isme yang paling berbahaya adalah ketika desainer melupakan proses berpikir yang menjadi landasan penciptaan. Sebuah desain, apapun medianya tentunya memiliki rumusan masalah, tujuan perancangan, proses kreatif dan metodologi tertentu. Para desainer cenderung melupakan subtansi dari fungsi desain itu sendiri yaitu “memecahkan masalah”, itu artinya sebuah desain bukan diciptakan berdasarkan faktor estetika semata namun harus memiliki sebuah tujuan tertentu seperti penjualan, layanan masyarakat, Branding, dll. DKV tidak boleh kehilangan makna dan tujuan komunikasinya karena DKV tidak sama dengan seni rupa karena DKV merupakan ilmu terapan. Dalam dunia akademis proses perancangan sebuah karya DKV dapat kita temukan di mata kuliah DKV I (Bahasa Gambar), DKV II (Coorporate Identity), DKV III (Iklan Layanan Masyarakat), DKV IV (Iklan Komersial), dan DKV V (multimedia). Menyadari akan pentingnya muatan metodologi dan teori dalam seri MK DKV maka secara otomatis akan diberi bobot yang tinggi yaitu 6 SKS.
Bagi para mahasiswa DKV penganut ideologi Instant-isme, pasti akan mengeluhkan beratnya proses penciptaan karya desain, dengan pemahaman yang dangkal karena menganggap metodologi tidaklah penting dan membuang waktu. Hal tersebut dapat dimaklumi karena dalam aplikasi riil dunia kerja juga banyak didapati hal serupa, sebagai contoh klien selalu menekan desainer untuk menghasilkan desain secepat dan sebanyak mungkin dalam sehari. Pada kondisi tertentu desainer banyak disamakan seperti mesin yang berfungsi sebagai komoditas ekonomi yang lebih mengutamakan nilai kuantitas bukan kualitas. Instant-isasi dalam DKV membuat desain kehilangan “roh” dan dan memicu kegiatan kapitalis yang ujung-ujungnya hanya persoalan uang.
Kemajuan teknologi komputer, digital photography, printing dll, hendaknya tidak membuat generasi DKV saat ini melupakan proses berpikir dan metodologi perancangan. Karena teknologi hanya sebuah alat. Terkadang desainer lupa bahwa sebuah desain bukan hanya dituntut untuk “baik” dan “indah” namun juga “benar”.
It’s about quality not quantity, kualitas desain adalah yang utama, meskipun bukan berarti bahwa kecepatan dan kuantitas tidak penting. Hasrat untuk menciptakan sebuah desain yang berkualitas dan menjadi sebuah masterpiece seharusnya dapat menepis ideologi Instant-isme yang ada pada generasi DKV saat ini.


Salam DKV.
Daniar Wikan Setyanto S.Sn
Staf Pengajar DKV Fasilkom Udinus Semarang