Senin, 28 Desember 2009

Faith is No Limit (re-edit)



karya lama yg di edit ulang..untuk dapat tone yg lebih ciamik.
mohon masukan dan kritikanya. Salam Wikan

Hesti


Photo by Wikan
Make up and talent by Ade
Talent Hesti

Minggu, 27 Desember 2009

Hesti dan Andi









Photo by Wikan
Make up and talent by Ade
Talent Hesti dan Andi

Sabtu, 05 Desember 2009

Three Angels

Jumat, 27 November 2009

Lady In The Mirror





EKSPLORASI TEKNIK HI KEY

Talent : Mira
Location : Udinus

eksplorasi teknik hi key setelah baca bukunya Adimodel dgn 4 lampu

Listless


Talent : Natanael
Location : Home

Brittle


Talent : Natanael
Location : home

mencoba bikin konsep sederhana, dgn properti yang ada

Untitled III (Dara)

Talent : Dara
Location : Udinus

Untitled II (Sekar dan Vilda)



Talen : Sekar dan Vilda
Location : Udinus

Untitled (Floren)


Talent : Floren
Location : Udinus

Sabtu, 31 Oktober 2009

Standart LIghting


with barndoor, standart 7" reflector and reflector.

materi Fotografi II
Special Thanks
fonny Mayasari untuk jadi sukarelawan model. dan segenap DKV MK Fotografi kelas malam.
BERKARYA TERUS...SEMANGAT

Minggu, 25 Oktober 2009

Raras Smile

playing with lighting

Minggu, 16 Agustus 2009

Playing with Lighting











Spesial Thanks


Model : Rahma
Location : Boos Studio Semarang
Spesial for Bp. Ferdianto Pamungkas and Boos Photograpy Crew

Rabu, 29 Juli 2009

Pre Wedding Dwi dan David








Jumat, 17 Juli 2009

revisi jadwal KRS

Selasa, 14 Juli 2009

INSTANT-isasi dalam Desain Komunikasi Visual

Instant merupakan sebuah kata favorit era modern ini. Sebuah kata kunci yang menawarkan sebuah kemudahan, simplisitas dan kecepatan disegala hal. Munculnya segala produk yang mengandung ke-instant-an di era modern secara tidak langsung ikut mendidik generasi saat ini cenderung menyukai segala hal yang instant. Tengok saja mie instant, minuman instant, bahkan sampai pada jasa laundry instant banyak kita jumpai di berbagai tempat. Istilah Instant-isasi sendiri muncul bersamaan dengan era kemajuan teknologi, sebuah kemajuan jaman yang tentunya tidak dapat dibendung dan mempengaruhi segala aspek kehidupan manusia.
Film Wall-E dari Wall Disney yang beberapa waktu lalu ditayangkan di bioskop tanah air menggambarkan sebuah ironi dari kemajuan teknologi, dalam film tersebut manusia digambarkan telah berevolusi menjadi “tidak lagi” mampu berjalan karena segala aktifitasnya telah digantikan dengan mesin. Instant kini bukan hanya sekedar kata sifat namun secara sistematis menjadi sebuah “ideologi” (baca instant-isasi) yang mengakar di generasi muda, bergerak seperti sebuah virus komputer dan hinggap disetiap cara pandang dan pola berpikir manusia. Contoh paling sederhana adalah berkurangnya minat membaca buku dimasyarakat karena dengan internet segala sesuatu lebih mudah dan cepat didapat. Internet perlahan menggantikan buku karena sifatnya yang Instant (mudah, cepat dan lengkap), sementara buku dianggap kurang solutif karena mahal, rumit, dan lama. Ideologi Instant-isme juga kita jumpai dalam kehidupan akademis sebagai contoh mahasiswa yang tidak pernah mencatat hanya menunggu materi untuk di copy paste. fenomena calo Skripsi, Jual beli nilai, titip absen, tanda tangan palsu, pencurian intelektual dan lain-lain.
Keterkaitannya yang erat dengan teknologi membuat Desain Komunikasi Visual (selanjutnya disebut DKV) ikut terkena imbas ideologi Instant-isme. Seorang dosen senior pernah bercerita kepada saya bahwa mahasiswa DKV sekarang jauh lebih mudah dalam menjalani proses belajar mengajar daripada mahasiswa jaman dahulu (dekade 80an). Beliau membandingkan kalau jaman dahulu saat teknologi belum maju seperti saat ini, mahasiswa membuat desain dengan full manual yang artinya memerlukan waktu jauh lebih lama, mahasiswa pada waktu itu bisa memerlukan waktu satu minggu hanya untuk membuat satu desain. Sedang mahasiswa saat ini bisa membuat desain dengan waktu 15 menit dengan mencomot image bank yang ada di internet.
Instant-isasi di bidang DKV menciptakan dikotomi antara manual dan digital, meskipun sebenarnya bukan sesederhana itu. Dikotomi manual dan digital adalah salah satu imbas logis dari ideologi instant-isme, munculnya desainer yang melupakan pentingnya kemampuan hand drawing karena menganggap bahwa semua bisa dilakukan dengan adanya komputer. Hal tersebut secara riil dapat kita temukan dalam dunia akademis, para mahasiswa DKV lupa bahwa sebenarnya kemampuan manual adalah dasar dari kemampuan artistik. Meskipun pada akhirnya manual dan digital lebih mengarah pada area spesialisasi, kedua unsur tersebut sebenarnya merupakan 2 sisi mata uang yang tidak dapat dihilangkan satu sama lain. Desain full digital tentunya memerlukan sketsa manual sebagai landasan visual, sebaliknya desain full manual pada akhirnya juga akan mengalami proses finishing digital.
Ideologi Instant-isme yang paling berbahaya adalah ketika desainer melupakan proses berpikir yang menjadi landasan penciptaan. Sebuah desain, apapun medianya tentunya memiliki rumusan masalah, tujuan perancangan, proses kreatif dan metodologi tertentu. Para desainer cenderung melupakan subtansi dari fungsi desain itu sendiri yaitu “memecahkan masalah”, itu artinya sebuah desain bukan diciptakan berdasarkan faktor estetika semata namun harus memiliki sebuah tujuan tertentu seperti penjualan, layanan masyarakat, Branding, dll. DKV tidak boleh kehilangan makna dan tujuan komunikasinya karena DKV tidak sama dengan seni rupa karena DKV merupakan ilmu terapan. Dalam dunia akademis proses perancangan sebuah karya DKV dapat kita temukan di mata kuliah DKV I (Bahasa Gambar), DKV II (Coorporate Identity), DKV III (Iklan Layanan Masyarakat), DKV IV (Iklan Komersial), dan DKV V (multimedia). Menyadari akan pentingnya muatan metodologi dan teori dalam seri MK DKV maka secara otomatis akan diberi bobot yang tinggi yaitu 6 SKS.
Bagi para mahasiswa DKV penganut ideologi Instant-isme, pasti akan mengeluhkan beratnya proses penciptaan karya desain, dengan pemahaman yang dangkal karena menganggap metodologi tidaklah penting dan membuang waktu. Hal tersebut dapat dimaklumi karena dalam aplikasi riil dunia kerja juga banyak didapati hal serupa, sebagai contoh klien selalu menekan desainer untuk menghasilkan desain secepat dan sebanyak mungkin dalam sehari. Pada kondisi tertentu desainer banyak disamakan seperti mesin yang berfungsi sebagai komoditas ekonomi yang lebih mengutamakan nilai kuantitas bukan kualitas. Instant-isasi dalam DKV membuat desain kehilangan “roh” dan dan memicu kegiatan kapitalis yang ujung-ujungnya hanya persoalan uang.
Kemajuan teknologi komputer, digital photography, printing dll, hendaknya tidak membuat generasi DKV saat ini melupakan proses berpikir dan metodologi perancangan. Karena teknologi hanya sebuah alat. Terkadang desainer lupa bahwa sebuah desain bukan hanya dituntut untuk “baik” dan “indah” namun juga “benar”.
It’s about quality not quantity, kualitas desain adalah yang utama, meskipun bukan berarti bahwa kecepatan dan kuantitas tidak penting. Hasrat untuk menciptakan sebuah desain yang berkualitas dan menjadi sebuah masterpiece seharusnya dapat menepis ideologi Instant-isme yang ada pada generasi DKV saat ini.


Salam DKV.
Daniar Wikan Setyanto S.Sn
Staf Pengajar DKV Fasilkom Udinus Semarang

Senin, 13 Juli 2009

INFO UDINUS

Rabu, 25 Maret 2009

Bahasa Tubuh (Teori Albert Mehrabian)

Albert Mehrabian (lahir 1939, Guru Besar Emeritus Psikologi UCLA), dikenal akan publikasinya tentang pentingnya hubungan antara pesan verbal dan non-verbal. Temuannya mengenai inkonsistensi pesan mengenai perasaan dan sikap telah dikutip melalui berbagai seminar di berbagai belahan dunia dan dikenal dengan Hukum 7%-38%-55%.
Tiga Elemen Komunikasi dan Hukum 7%-38%-55%
Dalam penelitiannya, Mehrabian (1971) menghasilkan dua kesimpulan. Pertama, bahwa ada tiga elemen dalam komunikasi langsung (face to face):

1. Tulisan
2. Intonasi suara
3. Bahasa Tubuh

Kedua, elemen non verbal yang sangat penting untuk mengkomunikasikan perasaan dan sikap, khususnya ketika terjadi ketidakselarasan: jika kata dan bahasa tubuh tidak sesuai, maka orang akan lebih condong percaya pada bahasa tubuh.
Ini menekankan bukan pada kasus bahwa elemen non verbal dalam segala pengertian selalu membawa bongkahan pesan, seolah-olah seperti yang sering disimpulkan orang selama ini.

Ketika menyampaikan suatu presentasi, sebagai contoh, materi berupa teks dari presentasi disampaikan seutuhnya secara verbal, namun isyarat-isyarat non verbal sangatlah penting dalam membawakan sikap pembicara berkenaan dengan ucapan yang dia sampaikan, dalam hal ini lebih meyakinkan.

Sikap dan keselarasan
Menurut Mehrabian, ketiga elemen ini memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda dari kecenderungan seseorang untuk menyampaikan pesan: kata-kata berperan 7%, intonasi suara berperan 38% dan bahasa tubuh 55%. Seringkali disebut sebagai 3V (Verbal, Vocal dan Visual).

Untuk komunikasi yang efektif dan bermakna untuk perasaan, tiga bagian pesan ini perlu saling mendukung satu sama lainnya – ketiga bagian ini semestinya “selaras”. Dalam kasus jika terjadi “ketidakselarasan”, maka penerima pesan bisa jadi terangsang oleh dua pesan yang datang dari dua saluran yang berbeda, memberi dua kesimpulan dari dua arah yang berbeda.
Contoh berikut barangkali dapat membantu mengilustrasikan ketidakselarasan komunikasi verbal dan non-verbal.

1. Verbal: “Aku tidak punya masalah denganmu!”
2. Non-verbal: orang tersebut menghindari kontak mata, nampak cemas, bahasa tubuh bersikap menutup/melindungi diri dan sebagainya.

Maka jadilah si penerima pesan lebih percaya pada bentuk komunikasi yang lebih dominan, yang mana Mehrabian menemukan bahwa non-verbal memiliki prosentase 38 + 55%, lebih dibanding dengan makna literal dari kata-kata (7%).
Penting untuk disampaikan bahwa dalam masing-masing studi, Mehrabian melakukan eksperimen untuk membagi komunikasi dalam perasaan dan perilaku (contoh: suka – tidak suka), dan pengaruh karena ketidaksesuaian proporsi antara intonasi suara dan bahasa tubuh berpengaruh hanya pada saat situasi yang mendua/ambigu. Keadaan ambigu tersebut muncul seringkali ketika kata-kata yang terucap tidak selaras dengan intonasi suara dan bahasa tubuh dari si pembicara (pengirim pesan).

Kesalahtafsiran atas Hukum Mehrabian

Hukum 7%-38%-55% telah banyak ditafsirkan berlebihan, beberapa orang menganggap bahwa dalam berbagai situasi komunikasi, makna dari sebuah pesan lebih banyak dibawa oleh isyarat-isyarat non-verbal, bukan dari makna kata-kata. Penyamarataan ini, mula-mula sudah ada sejak dari kondisi yang sangat spesifik dalam eksperimennya, yang mana disebut sebagai kesalahan dasar di seputar Hukum Mehrabian.
Untuk itu Mehrabian memberi pernyataan yang jelas mengenai hal ini sebagai berikut:
- 7% makna berasal dari kata-kata yang terucap
- 38% makna berasal dari paralinguistik (cara mengucapkan kata-kata atau intonasi suara)
- 55% berasal dari ekspresi wajah atau bahasa tubuh.

original posting by gogorbangsa.wordpress.com

Persepsi Visual

Sistem Visual
Dalam psikologi, persepsi visual dimengerti sebagai kemampuan untuk menterjemahkan apa yang dilihat oleh mata, yaitu jatuhnya cahaya masuk ke retina mata. Hasil dari persepsi tersebut dikenal dengan istilah: penglihatan (eyesight/sight/vision). Beragam komponen psikologis yang melibatkan penglihatan itulah yang secara keseluruhan disebut sebagai sistem visual.

Sistem visual pada manusia memungkinkan seseorang menyerap informasi dari lingkungannya. Saat seseorang melihat adalah ketika lensa mata terfokus pada suatu obyek yang tertangkap oleh bagian belakang mata yang disebut sebagai retina. Retina ini sebenarnya adalah bagian dari otak yang terpisah dan berfungsi meneruskan sinyal-sinyal cahaya menjadi sinyal-sinyal syaraf. Sinyal-sinyal ini diproses secara berurutan oleh otak, mulai dari retina menuju syaraf-syaraf primer dan sekunder dari otak.

Penelitian Awal Perihal Persepsi Visual


Studi dari masa Yunani Kuno yang melakukan mengenai bagaimana penglihatan mengemban tugasnya di dalam tubuh, yaitu teori emisi (emission theory atau extramission theory), yang mengatakan bahwa penglihatan terjadi karena ketika cahaya memancar dari mata dan dihadang oleh obyek visual. Jika kita melihat sebuah obyek secara langsung berdasarkan cahaya yang muncul dari mata dan jatuh kembali pada obyek. Teori ini dimunculkan oleh Euclid dan Ptolemy beserta pengikutnya.

Namun teori ini digantikan oleh teori intromission yang mengatakan bahwa penglihatan terjadi karena sesuatu masuk ke dalam mata sebagai perwujudan obyek tersebut. Namun dalam teori ini cahaya tidak berperan sedikitpun. Teori ini dilontarkan oleh Aristoteles, Galen dan para pengikutnya.


Kemudian Ibn al-Haytham1 (dikenal juga sebagai Alhacen atau Alhazen), atau sering disebut sebagai Bapak Optis, yang pertama-tama menengahi kedua teori tersebut melalui bukunya Book of Optics (dalam bahasa Arab Kitab al-Manazir atau Latin – Opticae Thesaurus) ditulis pada tahun 1021. Sebuah buku yang berisi penjelasan-penjelasan awal mengenai psikologi persepsi visual dan ilusi optis.
Dia berpendapat bahwa penglihatan adalah hasil dari pantulan cahaya yang memantul dari obyek-obyek yang ada. Dia pula yang melakukan penelitian ilmiah mengenai psikologi persepsi visual, sebagai ilmuwan pertama yang berpendapat bahwa penglihatan lebih utama terjadi di dalam otak dibandingkan pada mata. Dia menunjuk bahwa pengalaman seseorang mempunyai akibat pada apa yang mereka lihat dan bagaimana mereka melihat. Dikatakan pula bahwa penglihatan dan persepsi adalah bersifat subyektif. Dijelaskannya bahwa terdapat kemungkinan terjadi kesalahan dalam detail penglihatan, dan sebagai contohnya adalah bagaimana seorang anak kecil dengan sedikit pengalaman mengalami kesulitan untuk memahami apa yang dia lihat. Bagi seorang anak kecil, seburuk apapun wajah ibunya baginya tidak menjadi masalah selama si anak ini tidak diberi pengertian mengenai definisi kecantikan seperti yang dipahami oleh orang dewasa. Ibn al-Haytham juga memberikan sebuah contoh bahwa orang dewasa sekalipun dapat melakukan kesalahan dalam penglihatannya karena pengalaman orang tersebut mengesankan bahwa dia melihat sesuatu hal ketika dia melihat satu hal yang berbeda lainnya. Hal ini seperti sebuah pepatah bahwa: keindahan itu terletak pada mata mereka yang melihatnya. Sebuah bunga yang indah dapat menarik perhatian bagi seseorang, namun bisa jadi tidak menarik bagi orang yang lain. Ibn al-Haytham banyak melakukan penelitian dan eksperimen mengenai persepsi visual.2