Sabtu, 14 Juni 2008

Dwikotomi antara Desain Grafis dengan Desain Komunikasi Visual

Grafis dalam bahasa inggris disebut Graphic seringkali diartikan sebagai goresan yang berupa titik-titik atau garis yang berhubungan dengan dunia cetak mencetak, sedangkan Desain diartikan sebagai bentuk rumusan dan proses pemikiran. Oleh karena itu secara umum desain grafis dapat diartikan sebagai proses pemikiran yang yang mengalihkan gagasan dalam bentuk gambar (Pujirianto, 2005). Dalam aplikasinya istilah desain grafis merujuk pada sebuah aktifitas perancangan visual pada suatu bidang dua dimensional seperti halnya lukisan, fotografi, ilustrasi dll. Namun dalam perkembangan dasawarsa terakhir, desain grafis mulai merambah ke berbagai media. Kemajuan teknologi ternyata berbanding lurus dengan perkembangan desain grafis. Kini dalam kegiatan merancang tidak hanya dibatasi oleh media cetak saja, namun juga berbagai media audio visual seperti halnya animasi 2D/3D, video clip, website, CD Interaktif , Iklan televisi, dll.
Kecanggihan komputer banyak mengubah proses produksi grafis, kini dalam membuat suatu karya disain membutuhkan waktu yang relatif cepat, harga desainpun lebih murah dan kompetitif, ketrampilan menggambar tangan dinilai menunjang namun bukan sesuatu yang diutamakan, yang terpenting adalah memiliki sense of art serta penguasaan hardware dan software desain grafis seperti Adobe Photoshop, Ilustrator, Coreldraw, 3Dstudio Max, dll.
Desain grafis sering juga disebut dengan desain komunikasi visual (Deskomvis), beberapa pihak sepakat untuk mempunyai persepsi yang sama dalam mengartikan kedua istilah ini, padahal desain komunikasi visual merupakan suatu disiplin ilmu yang membentuk suatu spesialisasi tersendiri. Desain komunikasi visual memiliki lingkup yang lebih luas dari pada desain grafis, karena lebih menekankan aspek komunikasinya. Sedang desain grafis sering dikaitkan dengan hal-hal yang menyangkut keterampilan teknis dalam membuat suatu bentuk rancangan visual. Dalam menggabungkan kedua istilah tadi beberapa kalangan menyebutnya dengan Desain Komunikasi Grafis.
Desain Komunikasi Visual adalah ilmu yang mengkaji dan mempelajari desain dengan berbagai pendekatan dan pertimbangan, baik hal yang menyangkut komunikasi, media, citra, tanda maupun nilai fungsional. Dari aspek kelimuan (Agus Sachari, 2005), Deskomvis juga mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan ilmu komunikasi, teknologi percetakan, multimedia, dan psikoloi persepsi. Oleh karena itulah Deskomvis memiliki cakupan yang sangat luas, yaitu bentuk rancangan visual yang berisikan pesan komunikasi tertentu seperti halnya periklanan, animasi, corporate identity, environment graphic, multimedia, promotion, ilustrasi, fotografi, media cetak.
Walau mempunyai wilayah yang hampir sama, namun perbedaan antara desain grafis dan desain komunikasi visual handaknya tidak perlu diperdebatkan. Sebagai seorang desainer yang bergerak di bidang industri kreatif, hendaknya kita harus mengakui bahwa baik desain grafis maupun Deskomvis memiliki induk yang sama yaitu seni rupa. Karena tanpa seni rupa, desain sendiri tidak akan pernah terlahir sebagai suatu bidang ilmu. Lingkup desain selalu dapat diuraikan menjadi butir-butir keilmuan yang lebih spesifik dengan tema-tema baru yang senantiasa berkembang bersama dengan kemajuan teknologi. Dalam konteks yang lebih luas desain grafis dan Deskomvis diindikasi sebagai wahana yang membawa nilai-nilai peradaban, gaya hidup, citra dan cita rasa, fenomena kultural yang dapat diterapkan pada setiap aspek kehidupan manusia. Baik desain grafis dan deskomvis memiliki satu tujuan yang sama yaitu menciptakan sebuah karya yang memiliki nilai artistik dan fungsional.

Salam,
Daniar Wikan S
Staf Pengajar Desain Grafis, Multimedia dan Animasi
Digital Studio Workshop Jogja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar